Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

In cerpen

You're The One



Langit sore, matahari yang hampir terbenam, cahaya yang kemerahan, desiran ombak di sore hari. Suasana itu sangat membuat diriku tenang. Menikmati semua keindahan itu seakan menghentikan waktu dan aku tidak mau suasana itu pergi. Setiap hari dan setiap sore aku pergi ke pantai itu untuk menikmati semua keindahan itu seorang diri, yah hanya seorang diri. 

            Aku memang sangat menyukai kesendirianku, aku pun tidak tahu mengapa aku sangat senang jika aku sendiri. Aku tidak begitu menyukai keramaian. Keramaian hanya bisa membuat aku pusing. Aku memang terlahir ke dunia ini sudah sendiri. Aku tinggal di dalam sebuah panti, aku pun tidak mengetahui dimana dan siapa kedua orang tuaku. Aku hanya mengetahui ibu panti yang sudah merawat diriku sampai sekarang dan memberikan rasa kasih sayang yang teramat besar enggak kalah sama kasih sayang orang tua kandung, ibu panti itu bernama Ibu Yanti. 

            Sore itu sama dengan sore-sore sebelumnya, enggak ada yang berubah dan enggak ada yang spesial. Perasaanku pun sama seperti sebelumnya. Hari semakin sore dan langit pun mulai pun mulai berubah warna menjadi kelabu gelap, saatnya untukku pulang ke panti. 

                                                ***
            Panti inilah yang menjadi rumahku selama ini, tempat aku tumbuh dan berkembang. Tempat ini yang mengajariku banyak hal. Dulu aku mempunyai seorang teman, seorang pria yang bernama Jaka. Dulu kami adalah teman dekat yang tidak pernah terpisahkan. Kemana pun aku pergi pasti ada Jaka, dan kemana pun dia pergi pasti ada aku. Kini Jaka sudah tidak berada di panti ini lagi, dulu dia diadopsi dengan orang kaya. Aku tidak tahu alasan apa yang membuat dia pergi untuk meninggalkan aku di panti ini sendiri. Dia pun pergi tanpa meninggalkan sebuah pesan. Alhasil sampai saat ini aku tidak mau diadopsi oleh siapa pun karena aku masih berharap dan sangat berharap suatu saat nanti Jaka akan kembali ke panti ini dan hanya dia yang bisa membawa aku pergi dari panti ini dan hidup bersamanya. 

                                    ***
            Bertahun-tahun aku menunggu sampai hari ini aku masih setia menunggunya disini. Tapi, jangan pernah berpikir aku tidak melakukan apa-apa di penantian yang panjang ini. Aku sekolah sama dengan yang lainnya, aku pun bisa kuliah dan sekarang aku bekerja di sebuah cake shop, sebagai manager keuangan disana. Yah, bisa dibilang sekarang aku bisa membiayai hidup ku dan mengurus panti ini. Masalah percintaan?? Ah, kalian jangan pertanyakan itu kepadaku. Bukan karena aku tidak laku atau aku ini jelek. Tapi, aku memegang satu prinsip disini. Banyak memang cinta-cinta itu datang dan mendekati aku, tapi aku tolak. Satu alasan yang masih terbenam di hati ini, aku menantikan Jaka yang datang dan menyatakan cinta kepadaku. Yah, dialah cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku. Meskipun aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan dalam situasi ini, mungkin sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, atau setahun lagi. Aku tidak tahu.

            Aku akan berhenti berharap Jaka akan menjadi milikku jika dia datang dengan membawa pasangan hidupnya di depan kedua mataku, atau dia pergi selamanya ke pangkuan Tuhan. Mungkin aku akan susah menerimanya dan aku akan susah untuk kembali hidup dan menemukan cinta. Tapi, entah dari mana kekuatan itu, aku bisa merasa yakin bahwa suatu saat nanti dia akan kembali kepadaku dengan sendirinya. 

                                    ***
“Ra... Ra... Rara...!!!” teriak seseorang yang memanggil diriku.

Aku pun tersadar dari lamunan panjangku tentang masa lalu yang enggak akan pernah aku lupain. Entah ini sudah keberapa kalinya aku melamunkan itu.

“Rara” panggil suara itu lagi dan sekarang membuat aku sadar, yah benar-benar sadar.

“emh” 

“lu ngapain sih bengong disini, dikamar, sendirian lagi” tanya Dira sahabatku sekarang.

*to be continued*

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In cerpen

APA SUSAHNYA SIH BILANG CINTA?




Banyak orang yang beranggapan mengungkapkan cinta itu gampang, bagaikan membalikkan telapak tangan. Namun, pada kenyataannya cinta itu susah banget buat diungkapin. Cinta itu hanya bisa kita rasakan tanpa kita tau makna sesungguhnya dari cinta itu sendiri.

Hari itu adalah hari dimana aku bisa bilang cinta kepada seseorang. Sebelumnya aku gak pernah bisa menyatakan itu pada seseorang. Apalagi ke cowok.

***
Emh, aku juga gak tau yah kenapa rasanya pagi ini beda banget sama pagi-pagi sebelumnya. Saat aku membukakan mata pagi ini, mataku terasa ringan sekali dengan udara pagi yang sejuk dan angin yang berhembus dari jendela kamarku yang membelai pipiku dengan lembut. Ups, maaf aku lupa memperkenalkan diri, namaku adalah Danisha. Tapi, kalian bisa panggil aku Nisha.

Ketukan pintu yang kudengar pagi itu membuyarkan semua lamunanku tentang pagi ini. Aku menghampiri pintu kamarku dengan langkah gontai.

“maaf non, kirain mbok non belum bangun, udah ditunggu nyonya non buat sarapan” kata si mbok. Pembantu rumah tanggaku yang udah setia banget sama keluargaku, dan dia lah yang mengurusiku dari kecil. Dia yang selalu ada buatku, daripada seorang wanita yang selalu aku panggil mama.

“emh, iya mbok. Aku siap-siap sebentar. Abis itu turun ke bawah. Makasih yah mbok” kataku sebelum menutup kembali pintu kamarku.

***
Beberapa menit kemudian aku sudah rapi dengan t-shirt, celana jeans dan sepatu keds yang aku gunakan dan tidak lupa tas slempang. Aku keluar dengan hati yang sedikit lebih tenang. Aku pun tidak tahu bakal terjadi apa dengan diriku hari ini. Aku pun mulai menuruni anak tangga satu per satu menuju meja makan. Namun, apa yang aku dapat meja itu malah kosong, tidak ada seorang pun yang duduk disana. Yang terlihat hanyalah si mbok yang sedang membersihkan meja dari piring kotor yang ada sebelumnya disana.

“loh, katanya mama nunggu buat sarapan, sekarang mana mamanya, mbok?” tanyaku terheran-heran ketika melihat meja makan yang sudah kosong.

“kata nyonya dia buru-buru non, ada meeting di kantornya, makanya gak bisa nunggu non lama-lama” jawab si mbok.

Itu tuh, kelakuan mama sekarang. Aku pun gak tau kenapa mama selalu aja sibuk dengan urusan kantornya. Gak pernah sekali mikirin aku. Bokap? Jangan ditanya deh, soalnya aku gak tau sama sekali tentang bokap atau kata lainnya seorang yang seharusnya aku panggil dengan sebutan papa.

“non, mau sarapan apa?” tanya si mbok membuyarkan lamunan singkatku.

“aku mau roti aja sama susu coklat yah mbok” jawabku singkat.

“oke non, tunggu sebentar” kata si mbok selanjutnya.

Beberapa menit setelahnya, roti dengan selai cokelat dan susu cokelat hangat pun tersedia di hadapanku. Aku mulai menyantapnya dengan tenang. 

***
Aku melangkahkan kakiku dengan tidak semangat untuk memasuki lingkungan kampus. Entah kenapa kampus merupakan salah satu tempat yang gak pengen sama sekali aku kunjungi. Tapi, mau gimana lagi. Aku udah disini dan aku harus menghabiskan sisa waktuku disini. Di kampus yang suram ini.
 
Mungkin, karena aku tidak suka dengan suasana kampus jadi aku tidak memiliki banyak teman disini. Aku dikenal sebagai gadis pendiam dan mungkin beberapa mahasiswi nyebut aku dengan panggilan cewek freak. Padahal aku hanya mau diam dan tidak mau terlalu ikut dengan lingkungan yang ada disekitarku. Yang dimana lingkungan itu penuh dengan orang-orang yang bermuka dua dan saling menusuk dari belakang. Jadi ingat pesen dari seorang guru saat aku SMA.

“dunia perkuliahan itu, beda sama dengan dunia sekolah yang selama ini kamu liat. Disana tempat berkumpulnya orang-orang individualis. Mereka yang mempunyai teman banyak saat dikampus adalah dia seorang yang kaya raya, dia seorang yang cantik atau tampan, dia seorang yang pintar sehingga banyak orang yang memanfaatkan dia. Tapi, dari semuanya itu gak ada satu orang teman pun yang kita temui disana senang melihat kita sukses, mereka malah mempunyai cara untuk membuat kita hancur” kata guruku panjang lebar.

Berbekal pesan itu aku jadi sedikit menutup diri dan tidak percaya dengan orang-orang yang berusah mendekatiku dikampus. Aku lebih suka berdiam diri di perpustakaan saat gak ada kelas atau sekedar duduk di taman kampus. 

***
Siang itu dikantin kampus, aku memesan ayam bakar dan es teh manis yang biasa aku pesan untuk makan siang. Saat itu lah aku bertemu dengan dia. 

“hey, pelan-pelan dong jalannya” aku berteriak saat nampan yang aku bawa hampir jatuh karena kesenggol seorang cowok yang gak hati-hati.

“ups sorry” kata cowok itu santai.

“HEYYYYYYY!!!!!” teriakku lagi saat melihat dia melangkahkan kakinya menjauh dari kantin. Seketika dia pun membalikkan tubuhnya.

“hey, gak usah pake teriak gitu dong. Lo pikir gue budek, hah?” kata cowok itu nyolot dan kembali berjalan ke arahku.

“ye, kenapa jadi lo yang nyolot? Seharusnya gue yang berhak marah sama lo. Karena lo udah hampir bikin makanan gue jatoh ke tanah” kataku emosi.

“makanan lo hampir jatoh kan? Belom jatoh? Ya udah biasa aja kali.” Katanya lagi tambah nyolot.

Aku yang gak mau memperpanjang urusan langsung pergi meninggalkan kantin dan tidak lupa menaruh uang diatas nampan bekas makanan yang aku pesan dan sama sekali belum ku sentuh.

***
“anjrit siapa sih tuh cowok, nyebelin banget. Sok banget oke.” Kataku menggerutu sendiri saat aku mendapatkan tempat di taman kampus.

Suara kriuk yang ditimbulkan perutku, membuat aku memegang perutku yang kelaparan karena belum makan. Mau balik lagi ke kantin udah males. Males kalo harus ketemu sama cowok belagu nan songong itu.

***
Gue baru aja kelar menyantap makan siang di kantin. Gue yang pada saat itu sedang membayar dan hendak pergi secara gak sengaja menabrak seorang cewek yang sedang membawa nampan yang berisikan makan siangnya. 

“hey, pelan-pelan dong jalannya” kata cewek itu. 

Gue cuma bisa bilang “ups sorry”. Setelah itu gue pergi meninggalkan kantin. Dan tiba-tiba gue denger satu teriakan.

“HEYYYYYYY!!!!!”
Gue berhenti sejenak dan segera membalikkan tubuh gue dan gue ngeliat cewek itu sedang melihat kearahnya dengan tatapan mata yang penuh dengan amarah. Gue gak suka diliatin kayak gitu.
“hey, gak usah pake teriak gitu dong. Lo pikir gue budek, hah?” kata gue emosi.

*to be continued*

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In cerpen

KITA SELAMANYA


Kami adalah empat orang sahabat, yang telah bersahabat selama tiga tahun. Kami bertemu saat masa orientasi sekolah. Kami sering disebut B4, karena nama kami semua berawal dengan huruf B. Bukan bermaksud mau menyamakan F4 yah. Tapi itulah kami. Beni, Bian, Bryan, dan saya sendiri adalah Bobon. Kami menjadi kompak karena kami sama-sama dihukum di hari pertama MOS.
***
            Aku ingat hari itu. Tidak seperti biasanya hari itu aku kesiangan. Padahal aku tau kalau aku harus bangun pagi dan mengikuti masa orientasi di sekolah yang baru. Aku pun langsung bersiap dan dengan langkah terburu-buru aku mengambil sepeda yang telah terparkir dihalaman dan langsung menggenjotnya dengan penuh semangat. Sambil mengendarai sepedaku. Aku tidak ada hentinya melihat waktu yang ditunjukan jam tanganku yang berputar sangat cepat.
            Dari kejauhan aku sudah bisa melihat sekolah baruku. Tapi entar dulu aku melihat pagar sekolah akan segera ditutup oleh satpam. Aku pun mengerahkan semua kekuatanku yang masih tersisa dan menggenjot sepedaku untuk sampai di gerbang sekolah sebelum pagar benar-benar tertutup.
            Begitu sampai di depan gerbang aku bertemu dengan ketiga siswa yang terlambat juga. Kami berempat pun tidak membuang-buang waktu, kami meminta ijin untuk diperbolehkan masuk dan mengikuti masa orientasi.
            Satpam yang berdiri di depan tidak memberikan kami ijin masuk. Kemudian, satpam itu pergi dan kembali lagi bersama kakak kelas yang merupakan panitia pelaksana dari acara MOS yang diadakan. Kami pun meminta ijin untuk diperbolehkan masuk dan mengikuti acara yang telah berjalan.
            Setelah kami berempat memberikan alasan masing-masing mengapa kami terlambat, kami pun diperbolehkan masuk dengan syarat menjalankan hukuman yang telah diberikan senior.
***
            Di tempat lain dan beda cerita. Pagi itu jam dinding yang ada di kamar Beni telah menunjukan pukul tujuh pagi. Tapi, Beni masih berdiam didalam selimutnya yang hangat. Sebuah teriakan yang mampu membangunkan Beni.
“BENI...”
            Teriakan yang singkat tapi mampu membangunkan siapa pun yang ada dirumah itu yang masih tertidur dan terlelap dalam mimpi malamnya. Beni pun bangun dan melihat jam dinding yang ada dikamarnya. Begitu kagetnya dia melihat jam yang ada dikamarnya itu. Dia pun segera bersiap dan berlari menuju jalan raya untuk menghentikan angkot dan berburu dengan waktu. Semoga masih keburu katanya dalam hati.
            Tapi jalanan pagi itu sedang tidak bersahabat dengan Beni. Beni tidak tahu mengapa jalan pagi itu sangat macet. Dia pun heran karena tidak seperti biasanya jalanan semacet itu. Dia pun melihat keluar jalanan, dia turun dari angkot yang dinaikinya dan memilih untuk berjalan kaki menuju sekolahnya.
            Langkah kaki yang setengah berlari membuat keringat Beni keluar semua. Dia menghentikan langkah kakinya kemudian mengambil nafas dan mempersiapkan tenaga lagi untuk melanjutkan melangkah. Namun, matanya terbelalak ketika dari jauh dia melihat satpam sekolah ingin menutup pintu gerbang. Beni pun segera berlari. Hingga dia sampai di depan gerbang yang sudah ada dua orang siswa yang terlambat juga.
***
            Beda halnya dengan Bian. Bian yang tadinya tidak mau mengikuti masa orientasi harus masuk dan mengikutinya.
            Pagi itu dengan langkah yang berat dia mengeluarkan motor dari rumahnya. Menyalakannya dan mengendarainya dengan santai. Dia sempat berhenti di salah satu tempat, duduk dan berpikir untuk tidak mengikuti acara yang bodoh itu. Namun, entah mengapa hatinya menolak dengan pikirannya itu. Hatinya mengatakan untuk tetap berangkat ke sekolah.
            Setelah berpikir panjang dia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Bian mengendarai motornya masih dengan kecepatan yang minimum. Sepanjang perjalanan dia memikirkan ada apa dengan dirinya hari ini. Dia juga bingung mengapa dirinya aneh pagi ini. Mengapa hatinya seakan mengatakan Bian harus ke sekolah hari ini.
            Sesampainya di depan gerbang sekolahnya dia tidak ingin masuk. Dia lebih memilih menunggu di luar pagar. Beberapa menit berselang sampai satpam ingin menutup pagar tersebut.
“gak masuk mas?” kata satpam itu.
Bian pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan  perlahan pagar itu bergerak dan terhenti saat satpam itu mendadak pergi masuk kedalam gedung sekolah.
            Bian pun hanya menunggu diluar pagar tidak ada niat untuk memasuki gedung sekolah itu. Kata hatinya bilang dia harus menunggu diluar. Entah apa yang akan terjadi, yang dia tahu dia hanya menunggu. Bian pun semakin tidak mengerti.
***
            Bryan keluar dari mobilnya dengan buru-buru. Ketika dia melihat satpam akan menutup pagar sekolah tersebut. Namun, Bryan heran mengapa ada satu siswa yang tidak langsung masuk padahal satpam telah menutup pagarnya sebagian. Keheranan pun semakin memasuki pikiran Bryan. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri siswa tersebut.
“hei sedang apa kamu disini?” kata Bryan mencoba untuk menyapanya.
“suka-suka gue dong, gue disini nunggu orang. Kenapa emang?” tanya siswa tersebut.
            Bryan pun tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia berpikir siswa itu sedang tidak ingin diganggu.
            Beberapa menit kemudian, satpam sekolah itu kembali melakukan pekerjaannya. Melihat gerakan satpam yang akan menutup gerbang sekolah pun membuat Bryan melangkahkan kakinya ke depan pagar.
“pak, jangan ditutup dulu. Aku boleh masuk” kata Bryan meminta ijin untuk masuk ke dalam gedung sekolah.
“maaf mas, belum boleh masuk kedalam sebelum upacara apelnya selesai.” Kata satpam itu menjelaskan.
***
            Aku yang awalnya hanya diam memulai pembicaraan dengan cara berkenalan dengan tiga siswa yang lain. Aku menyebutkan namaku ke mereka dan reaksi dari mereka adalah sebuah ketawa.
“hai, gue bobon. Lo siapa?” tanyaku kepada beni.
“gue Beni.” Kata Beni sambil menjambat tanganku dan tertawa.
“Lo?” kataku sambil menyodorkan tanganku ke arah Bian.
“gue Bian” kata Bian cuek.
“kalo lo?” kataku lagi kepada Bryan.
“aku Bryan” kata Bryan.
            Setelah ajang perkenalan itu selesai semua orang yang ada disitu mulai tertawa kecil. Aku yang menyadari mereka telah mencoba menyembunyikan tawa mereka aku segera bertanya kepada mereka.
“kenapa sih kalian pada ketawa?” tanyaku heran.
            Keheranan itu semakin membuat pikiranku tidak karuan. Apa yang mereka tertawakan tanyaku dalam hati. Sebelum aku menemukan jawaban mengapa mereka tertawa tiba-tiba saja mereka diam seketika.
“loh, sekarang kenapa kalian diam?” tanyaku lagi yang belum menyadari sesuatu yang tengah terjadi.
            Bian hanya memberikan tatapan mata yang menyuruhku untuk berbalik dan melihat apa yang mereka lihat. Aku kaget ketika melihat senior sedang berdiri tepat dibelakangku.
“eh, kak. Maaf yah” kataku sambil memutar badan dan melihat ke arah senior tersebut.
            Kami pun mulai berjejer. Mendengarkan setiap omongan yang dikeluarkan dari mulut seniornya itu.
“jadi kalian disini telat semua?” tanyanya kepada kami.
            Kami semua mengangguk sebagai tanda untuk memberikan jawaban atas pertanyaan senior tersebut. Setelah melihat gerakan kepala kami, dia mengambil nafas dan mulai bicara kembali.
“kalian boleh masuk, dengan syarat kalian harus berada di tengah lapangan dan hormat kepada bendera dengan kaki sebelah kiri kalian diangkat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya” tanya senior itu lagi.
            Kami pun mengangguk dengan pasti tanda setuju dengan hukuman yang diberikan kepada kami. Aku melihat Beni dan Bryan dengan senang hati menerima hukuman tersebut namun aku heran ketika melihat Bian. Dia sepertinya tidak ingin mengikuti acara MOS ini. Tapi aku tidak tahu alasannya kenapa.
            Kami pun memasuki gedung sekolah baru kami. Untuk pertama kalinya aku merasakan semua mata memandang ke arah kami dengan aneh. Siswa baru tidak berani menatap kami yang tengah berjalan ke tengah lapangan. Tapi tatapan mata semua senior membuatku agak sedikit takut. Kami pun langsung menaruh tas kami diluar lapangan. Kami segera membuat lingkaran di tengah lapangan dan memberikan hormat kepada bendera dengan kaki kiri kami dipegang dan mulai melantunkan lagu Indonesia Raya.
            Sekian menit kami berada di tengah lapangan dengan dilihat oleh ribuan pasang mata yang menatap kami dengan aneh. Akhirnya kami pun diperbolehkan untuk memasuki ruangan kelas yang telah diatur oleh tim pelaksana acara orientasi sekolah ini.
***
            Satu per satu dari kami dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan yang telah diatur.
“Beni” kata senior cewek yang mulai mengabsen nama kami.
            Beni pun langsung masuk ke dalam ruangan dan langsung mencari posisi.
“Bian” panggilnya lagi.
            Bian pun memasuki ruangan kelas dengan langkah kaki yang terihat berat.
“Bryan”
            Bryan pun  segera memasuki ruangan setelah namanya dipanggil dan diperbolehkan masuk. Senior yang sedang mengabsen itu tertawa sebelum memanggil namaku.
“Bobon” katanya dengan tawa yang ingin disembunyikannya itu.
            Aku pun langsung memasuki ruangan kelas yang sudah hampir penuh diisi dengan para siswa baru. Aku pun segera mencari tempat duduk yang kosong. Aku segera ke tempat duduk yang ada disamping Bian. Aku pun segera duduk.
“gak nyangka yah, ternyata kita satu kelas.” Kata Bryan.
***
            Terlepas dari masa orientasi tersebut. Ternyata kami menjadi teman yang sangat akrab. Kemana-mana kami selalu bersama. Ke kantin, ngerjain tugas, dan dihukum pun selalu bersama. Aku senang dengan apa yang aku dapat. Aku senang mendapatkan teman-teman seperti mereka. Meskipun mereka sangat aneh awalnya.
            Hari itu adalah hari terakhir mereka duduk di kelas satu. Kantin sekolah yang selalu ramai, menjadi tempat kami untuk berkumpul dan membicarakan siapa saja dan bergurau tentang apa saja yang kami lihat.
“eh gak terasa yah kita udah satu tahun bareng di kelas satu.” Kata Bryan memulai pembicaraan siang itu.
“emang yah?“ kata Bian masih tetap dengan sikap cueknya.
            Oya aku lupa memberitahukan pada kalian bahwa kami berempat juga mendapatkan julukan disekolah ini.
            Beni mendapatkan julukan si kompor meleduk karena mulutnya yang ember dan cara bicaranya yang terlalu nyablak. Membuat dia mendapatkan gelar kompor meluduk.
            Bian dijuluki si cuek. Gimana gak, sama kami aja yang temannya masih bisa cuek apalagi sama orang lain yang baru kenal dengan sosok Bian.
            Bryan dijuluki si ganteng. Harus aku akuin diantara kami berempat Bryanlah yang paling dikagumi dan dikejar-kejar sama cewek-cewek yang ada disekolah, mulai dari yang seumuran sampai senior yang. Tapi, yang bikin aku salut sama dia adalah meskipun ganteng tapi dia bukan playboy karena samapai saat ini dia belum pernah memacari salah satu cewek yang ada disekolah kami ini. Apa dia tidak suka cewek yah? Hahaha gak mungkin banget.
            Bobon adalah namaku. Aku mendapatkan julukan si gendut. Karena diantara mereka akulah yang paling berisi. Padahal aku tidak terlalu gendut hanya sedikit lebih berisi saja. Oke kembali ke cerita.
“duh, Bryan jangan terlalu melankolis deh. Emangnya kenapa kalo kita udah temenan hampir setahun?” kata Beni.
“apaan sih kamu Ben, siapa juga yang melankolis. Aku hanya mengingat-ingat kejadian setahun yang lalu pas lagi MOS” kata Bryan
“hei kalian sedang membicarakan apa? Cewek mana lagi yang kalian jadikan bahan pembicaraan?” tanyaku yang baru kembali setelah memesan minuman dan sedikit makanan ringan untuk teman-temanku.
“kita lagi ngomongin Bryan yang melankolis. Hahaha” kata Beni dengan diikuti tawanya yang sangat geli.
            Bian ikut tertawa dan aku pun juga ikut tertawa terbahak mendengar celotehan dari Beni. Sekian detik aku melihat perubahan ekspresi dari wajah Bryan.
“eh kalian apaan sih, tuhkan Bryan jadi gak mood disini.” Kataku sambil menahan ketawaku dan menjaga suaraku untuk terdengar senormal mungkin.
“ya elah Bryan, gitu aja marah. Lagian lo sih yang duluan. Kenapa bahas tentang kita yang udah setahun temenan, pake bilang ‘gak terasa yah kita udah setahun temenan’. Tau gak kalimat itu tuh Cuma dipake oleh cewek-cewek yang lebay. Hahaha” kata Beni to the point.
            Bian yang dengan sikap cueknya memberikan persetujuan untuk omongan Bryan yang dianggap Beni terlalu melankolis.
“bener loh, apa yang dibilang sama Bryan, kita udah setahun temenan. Lo inget gak yang kita sama-sama dihukum di hari pertama MOS, sebenernya sih gue gak mau ikutan acara yang gak penting itu. Tapi, gak tau kenapa yah, gue melangkahkan kaki gue ke sekolah dan sekarang gue tau kenapa gue harus ke sekolah saat itu, karena untuk ketemu sama kalian.” Kata Bian menjelaskan kejadian pagi itu setahun yang lalu.
“eh bener juga, gue juga bingung kenapa kita jadi bisa seakrab ini yah? Apa karena sama-sama dihukum? Tapi gue masih bingung sama sikap kalian pertama kali saat mendengar nama gue Bobon. Sekarang gue mau nanya, kenapa saat itu kalian tertawa?” tanyaku pada mereka semua.
            Mereka saling melempar pandangan dan mulai tertawa terbahak. Aku pun heran mengapa mereka tertawa atau karena kembali mengingat kejadian satu tahun yang lalu saat pertama kali aku memberitahukan namaku.
“tau gak sih lo bon, nama lo tuh bukan hanya sekedar aneh tapi lucu.” Kata Beni memulai untuk menjelaskan.
“aneh? Lucu? Gak ngerti gue.” Kataku dengan pikiran yang menerawang dan mencoba mencerna omongan sahabatnya tadi.
“ya ampun Bon, emang selama ini lo gak sadar apa, nama lo tuh aneh, lucu aja ngedengernya, Bo-bo-n. Pantes aja lo gendut soalnya nama lo Bobon. Hahaha” kata Beni menjelaskan dan diakhiri dengan tawa yang diikuti oleh kedua temannya yang lain.
“enak aja. Gue ini bukan gendut tapi sehat. Hahaha” kataku dengan sikap santai dan tidak marah kepada mereka.
***
            Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah dari sekian lama liburan. Aku mengendarai sepedaku dengan santai. Aku senang akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang aneh itu.
            Tahun ini adalah tahun terakhir untuk kami berempat berada di lingkungan sekolah tersebut. Kami sekarang telah duduk di kelas tiga. Mau tidak harus meninggalkan sekolah yang telah mempersatukan kami.
            Sesampainya disekolah aku segera memarkirkan sepedaku dan mulai melangkahkan kaki dengan santai. Aku biasanya langsung masuk ke kelas begitu sampai di sekolah namun, hari ini aku ingin ke kantin dulu sebelum masuk ke kelas. Aku pun mulai melangkahkan kakiku ke arah kantin yang berada di belakang sekolah.
            Aku berjalan dan mulai memesan minuman. Ketika itu aku melihat seorang gadis yang tidak aku kenal. Dia duduk sendiri di kantin yang pagi itu masih sepi. Begitu minumanku selesai aku pun membawanya dan menghampiri gadis itu.
“boleh gue duduk disini?” tanyaku kepada gadis itu.
            Gadis itu hanya mengangkat kepalanya. Memandangku dari atas sampai bawah dan selanjutnya dia menganggukan kepalanya. Aku pun segera duduk di kursi yang ada di hadapan gadis itu.
“oya, gue Bobon. Lo siapa?” kataku sambil menyodorkan tanganku untuk berkenalan dengan gadis itu.
            Gadis itu tersenyum dan menjabat tanganku dengan hangat.
“aku Mella.” Katanya kepadaku.
“lo siswa baru disini?” tanyaku
“iya, aku baru pindah ke sekolah ini hari ini.” Katanya lagi sambil menjelaskan asal-usul dia.
“lo kelas berapa?” tanyaku lagi yang ingin tahu lebih tentang gadis itu.
“aku di kelas 3ipa4” katanya lagi dan membuat kaget diriku.
“wow, berarti kita sekelas dong. Gue di 3ipa4 juga.” kataku bersemangat.
           Aku melihat jam tanganku yang mengharuskan aku untuk ke kelas. Aku melihat gadis itu lagi dan mulai berkata.
“mau ke kelas bareng gak?” tanyaku.
“kamu aja duluan, aku mau ke toilet dulu.” Kata Mella.
***
            Pagi itu Beni, Bian, dan Bryan datang lebih pagi dan mereka telah berkumpul di dalam kelas. Mereka heran karena Bobon belum datang. Tidak seperti biasanya Bobon datang ke sekolah terlambat.
“eh, si Bobon kemana? Ada yang tau gak?” kata Bryan.
            Beni dan Bian hanya bisa menggelengkan kepala yang menandakan mereka berdua tidak tau apa-apa dimana Bobon.
            Mereka pun megobrol dan mengabaikan ketidakberadaan Bobon di sekitar mereka. Waktu menujukan sepuluh menit lagi akan bel.
“eh, gue ke toilet dulu yah” kata Beni.
            Di perjalanan mau ke toilet dia berpapasan dengan Bobon yang melangkahkan kakinya dengan santai dan raut wajahnya terlihat sangat gembira pagi itu.
“eh.” Kata Beni sambil menepuk pundak Bobon.
“ah, lo Ben. Ganggu gue aja lo.” Kataku dengan nada yang agak sedikit kesal.
“darimana aja lo? Baru dateng kan lo?” Tanya Beni tanpa basa-basi.
“enak aja dibilang baru dateng, jelas-jelas gue lebih dulu dateng daripada lo.” Kataku tidak terima atas perkataan Beni tadi.
“kalo dateng daritadi kenapa gak ada dikelas. Tas lo pun gak keliatan.” Tanyanya lagi.
“duh, please deh Ben, tadi tuh gue ke kantin dulu. Udah ah, gue mau ke kelas” kataku dengan santai.
            Beni pun melanjutkan langkah kakinya untuk ke toilet. Aku yang melihat Beni melangkahkan kaki ke lain arah segera berbalik dan bertanya.
“Ben, lo mau kemana?” tanyaku dengan agak sedikit berteriak.
            Beni pun membalikkan tubuhnya dan berteriak.
“gue mau ke toilet dulu” kata Beni.
***
            Beni berjalan dengan santai. Sampai di depan toilet dia bertemu dengan seorang gadis yang belum dikenalnya. Gadis berambut panjang itu membuat Beni menjadi deg-degan.
            Beni pun tidak tahu dengan apa yang dia rasakan saat itu. Gadis itu tersenyum. Senyuman yang membuat siapa saja akan terpikat. Gadis itu berjalan menjauh dari Beni. Beni mengikuti langkah kaki gadis tersebut. Dia terus mengikuti, hingga sampai di depan kelasnya gadis itu masuk ke dalam ruangan.
            Beni yang melihatnya langsung segera berlari masuk ke dalam kelas. Dia memandangi gadis itu tanpa berkedip.
“sumpah perfect banget” kata Beni dalam hati.
“siapa yang perfect?” tanya Bryan.
            Beni yang menyadari pertanyaan Bryan menjadi bingung.
“ah, lo ngomong apa Yan?” tanya Beni.
“aku nanya sama kamu siapa yang perfect?” jelas Bryan.
“emang siapa yang perfect?” tanya Beni lagi.
“kok kamu malah balik nanya sih. Aku kan tadi nanya sama kamu” kata Bryan.
“emang gue tadi ngomong apaan?” tanya Beni.
“kamu tadi ngomong ‘sumpah perfect banget’, nah itu buat siapa dan siapa yang perfect?” tegas Bryan.
“loh emang tadi gue ngomong kayak gitu?” tanya Beni.
***
            Jam pelajaran terakhir pun telah usai. Seperti biasa Bryan menunggu sopir untuk menjemputnya. Namun, dia heran mengapa supirnya lama sekali datangnya biasanya tidak sampai selama ini.
            Setengah jam berlalu, Bryan masih menunggu dengan sabar supir pribadinya itu. Ketika dia menolehkan kepalanya dia menangkap sosok gadis yang merupakan anak baru disekolah. Dia berjalan dengan rambut panjang yang terurai dan tertiup angin. Gadis itu terlihat sempurna.
“itu kan anak baru yang masuk tadi, kenapa sendirian yah?” kata Bryan dalam hati.
            Dalam hitungan detik gadis itu telah di depan gerbang dan berdiri tepat di samping Bryan.
“hei.” Sapa Bryan
            Gadis itu hanya memberikan senyuman manis kepada Bryan.
“aku Bryan, kamu siapa?” tanya Bryan sambil menyodorkan tangannya.
“aku Mella.” Katanya sambil menjabat tangan Bryan.
“kamu pulang sendirian atau nunggu di jemput?” tanya Bryan lagi.
“aku nunggu angkutan. Kamu sendirian nunggu dijemput?” tanya Mella.
“iya aku nunggu di jemput sama supir. Ngomong-ngomong rumah kamu dimana?” tanya Bryan.
“rumah aku di perumahan Kenanga blok D5 no 2” kata Mella.
“ya ampun Cuma beda blok sama aku. Ya udah kamu bareng sama aku aja pulangnya. Mau gak? Tenang gak bakal ngerepotin kok, kan kita searah.” Ajak Bryan.
“oke, makasih yah. Bener nih gak ngerepotin?” tanya Mella yang dijawab langsung dengan anggukan Bryan dan sebuah senyuman.
            Beberapa menit kemudian, supir yang telah lama ditunggu datang juga. Bryan langsung membukakan pintu untuk Mella dan mempersilahkannya masuk ke dalam.
“pak, kita anter dia pulang dulu yah” kata Bryan kepada supirnya.
“siap den” jawab supirnya.
            Mobil pun meluncur meninggalkan gerbang sekolah. Sepanjang perjalanan Bryan dan Mella hanya diam dan mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sesampainya di rumah Mella, Bryan memerhatikan secara seksama rumah mewah yang ada di depan matanya.
“itu rumah aku.” Kata Mella sambil menunjuk rumah mewah itu.
“kalau gitu aku duluan yah Yan, oya kamu mau mampir dulu gak?” tawar Mella.
“gak deh, lain kali aja mampirnya. Masih banyak waktu ini.” Kata Bryan.
“oh ya udah, aku masuk yah, makasih atas tumpangannya” kata Mella sambil bergegas masuk ke dalam rumahnya.
***
            Baru seminggu Mella ada di lingkungan sekolah kami telah mampu membuat kami berselisih paham dan membuat hubungan persahabatan kami menjadi agak sedikit merenggang. Aku ingat hari itu. Saat kami berempat duduk di kantin dan melihat Mella. Aku, Beni dan Bryan langsung menghampiri Mella dan menyuruh Mella untuk duduk bersama kami. Namun, gadis itu menolaknya dengan sebuah senyuman yang mampu menarik semua pandangan. Bian yang melihat dari tempat duduknya hanya mampu menggelengkan kepala atas tingkah laku dan sikap para sahabatnya itu. Bian tidak ikutan mengejar Mella karena dia lah satu-satunya anggota B4 yang sudah memiliki pacar.
            Bian yang melihat ketiga sahabatnya diam mematung di tempat mereka berdiri segera menghampirinya dan membangunkan mereka semua dari alam khayalnya.
“eh..” teriak Bian di depan muka ketiga temannya itu.
“BIAN..” teriak semua temannya itu.
“lagian kalian kayak patung gitu disini. Pada ngeliatin Mella? Mana udah gak ada orangnya.” Kata Bian.
           Ketiga temannya tidak ada yang menjawab. Mereka malah kembali asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Bian pun meninggalkan semua temannya berdiri mematung di kantin.
***
            Keesokan harinya kami terkecuali Bian. Memulai siasat untuk menaklukan hati Mella. Kami bertiga pun menjadi saingan yang sangat kuat. Bian yang kami jadikan saksi hanya diam melihat kelakuan teman-temannya.
            Bian pun sebenarnya tidak tega melihat ketiga sahabatnya bersaing demi mendapatkan Mella. Bian memiliki rahasia yang sangat besar namun, dia belum berani untuk mengatakan kepada teman-temannya.
            Berhari-hari Bian melihat kelakuan teman-temannya menjadi semakin aneh dan lebih parahnya lagi  mereka bertiga tidak ada yang menyapa satu sama lain. Kami pun jarang kumpul dan pergi bareng-bareng lagi. selama beberapa hari ini Bian mendapati dirinya yang seperti dulu, yang selalu sendiri dan tidak mempunyai teman.
***
            Bian mengendarai motornya dan memasuki komplek perumahan mewah. Bian menghentikan motornya di sebuah rumah mewah dan langsung memencet bel yang ada di dekat pagar rumah itu. Selang berapa detik pintu rumah itu terbuka dan keluarlah seorang gadis cantik dengan menggunakan pakaian rumah yang simple dia membukakan pagar dan membiarkan Bian masuk dan memarkirkan motornya dihalaman rumah gadis itu.
            Gadis itu berjalan terlebih dulu masuk ke dalam rumah dan diikuti dengan langkah kaki Bian yang masuk ke ruang tamu rumah mewah itu.
“mau minum apa Bi?” tanya gadis itu.
“biasa Mel, kamu kayak gak tau aja selera aku.” Kata Bian.
            Ternyata gadis itu adalah Mella. Mella yang menjadi kekasih Bian selama tiga tahun itu segera menuju dapur rumahnya. Beberapa menit kemudian Mella keluar dengan membawa dua gelas orange juice dan cemilan untuk kami berdua.
“Mel, sebenernya aku mau ngomong ke kamu, soal teman-temanku yang beberapa hari ini nyoba buat ngedeketin kamu. Aku pikir ini udah saatnya deh kita kasih tau yang sebenernya ke mereka.”  Kata Bian sambil menjelaskan maksud kedatanganny ke rumah Mella.
“aku juga punya pikiran yang sama kayak kamu. Soalnya aku udah cape dikejar sama ketiga teman kamu itu. Aku jadi gak bisa deket-deket sama kamu kalo di sekolah.” Kata Mella yang menyetujui omongan Bian tadi.
“oke, jadi kita tinggal mikirin kapan dan dimana kita akan ngomong sebenernya ke mereka.” Kata Bian.
“gimana kalo kita ketemuan di cafe stroberi besok jam lima sore?” usul Mella.
“boleh. Biar aku yang kasih tau mereka semua. Kamu standby aja besok. Langsung ketemu disana yah” kata Bian mengatur semuanya untuk besok.
***
            Cafe Stroberi pukul 17.00. Mella telah menunggu dan duduk manis di dalam cafe itu. Dia memesan capucino dan kembali menunggu kedatangan B4. Dia mengambil HP-nya dari tas tangan yang ada diatas meja. Jari-jarinya pun dengan mudah mengetikan beberapa huruf dan mengirimkan pesan singkat itu  ke Bian.
            Beberapa menit kemudian Bian membalas sms Mella dan memberitahukannya bahwa sebentar lagi Bian dan teman-temannya sampai di tempat tujuan.
            B4 pun memasuki cafe tersebut. Betapa terkejutnya Beni, Bryan dan aku ketika melihat Mella tengah duduk sendirian di dalam cafe tersebut. Lebih mengejutkan lagi ketika Bian menghampirinya dan langsung cipika-cipiki sama Mella. Kami bertiga yang masih kaget dengan pemandangan yang baru saja kami lihat langsung mengambil posisi dan duduk diantara Bian dan Mella.
           Pemandangan yang sangat aneh buat Bian dan  Mella. Bian tahu apa yang ada di dalam pikiran teman-temannya. Maka dari itu Bian membuka suaranya untuk menjelaskan hal yang terjadi.
“sorry, nih temen-temen. Gue gak bilang ke kalian sebelumya kalo Mella adalah cewek gue. Gue sama Mella udah tiga tahun jalan bareng. Emang sih gue gak pernah ngenalin ke kalian semua. Soalnya Mella selulus SMP langsung pindah ke Bandung dan sekarang balik lagi ke Jakarta. Gue minta maaf kalo udah bikin lo semua patah hati karena ketidakjujuran gue ke kalian.” Kata Bian menjelaskan maksudnya.
            Kami bertiga hanya diam dan tidak mampu berkata apa-apa ketika Bian menjelaskan semuanya. Menjelaskan semua kenyataan yang ada yang membuat kami menjadi bisu dan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Aku melihat ada pergerakan dari bibir Mella dan dia sedang bersiap-siap mengelurakan kalimatnya.
“bener apa yang dibilang Bian. Disini aku gak ada maksud buat kalian sakit hati atau membuat kalian berharap lebih sama aku. Awalnya aku hanya ingin kenal kalian tanpa harus Bian memperkenalkan kita. Aku benar-benar minta maaf ke kalian. Karena udah bikin hubungan kalian jadi gak baik.” Kata Mella menambahkan.
            Beni yang biasanya nyablak kini tidak bisa mengeluarkan sapatah kata pun. Bryan dengan ekpresi muka yang sangat amat kecewa tidak mampu berkata lagi. Akhirnya aku dengan segenap hati dan kebesaran jiwa mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Bian dan Mella.
“gue gak tau yah, mesti mulai darimana. Satu yang ada di hati gue sekarang, gue kecewa sama kalian berdua. Tapi, ya sudahlah. Gue bisa terima kok apa yang kalian berdua lakuin ke kita. Dan gue rasa Bryan sama Beni juga akan ngerti kok. Ini bukan salah lo berdua, ini pure kebodohan kita bertiga.” Kataku dengan nada yang sedikit agak terbata-bata.
***
            Setelah kejadian itu hubungan kami berempat ditambah Mella menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Kita sudah bisa lebih terbuka lagi dan saling mengerti satu sama lain.
            Hari ini adalah hari kelulusan kami berlima. Kami yang lulus dengan nilai yang nyaris sempurna menyorakkan kegembiraan kami di pinggir jalan. Kami meneriakkan kalimat yang membuat kami berlima menjadi satu.
“KITA SELAMANYA”

SELESAI.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments